“Story Blog Tour” Challenge with OWOP (One Week One Paper) II

Setelah lama hibernasi, akhirnya aku balik lagi dengan sebuah challenge project. FYI aja, Story Blog Tour adalah proyek menulis bersama untuk saling mengunjungi blog selama peserta. Proyeknya adalah membuat sebuah cerita bersambung yang ditulis secara bergiliran, dimana genrenya sudah ditentukan. Satu orang menulis di blog nya lantas dilanjutin oleh peserta berikutnya, 1 hari 1 cerita. Dan genre yang diangkat kali ini adalah Roman/Angst.

Nah kali ini aku dapat giliran kedua. Buat yang mau tau cerita awalnya bisa diliat di link berikut:

http://nanonikki.blogspot.co.id/2016/10/story-blog-tour-challenge-with-owop-one.html

Cerita yang ditulis oleh Nifa. Begitu membaca pembukanya wow, aku betul-betul tersayat-sayat. Angst banget. Agak takut juga buat ngelanjutinnya, bukan apa-apa karena aku ngerasa kemampuanku masih cetek, takut kalo nanti justru merusak cerita awal yang udah bagus. Tapi challenge tetep harus berlanjut, jadi ya kubuat lebih ke sisi romannya di chapter 2 ini.

Mohon kritik dan sarannya ya..

And here the story, have you enjoy it

Chapter 2 Self Harm

Tezar memarkir motornya secara asal di depan pagar rumah Elisa. Dari luar rumah berlatar luas itu terdengar suara-suara gaduh, campuran suara teriakan dan bantingan barang.

Tezar berlari menuju jendela kamar Elisa. Syukurlah Elisa mendengarkan perintahnya untuk membuka jendela kamar. Dalam satu lompatan, ia masuk ke kamar Elisa.

Kamar itu sekilas sama saja dengan kamar cewek pada umumnya. Poster Song Hye Kyo dan Song Joong Ki dalam drama seri Descendants of The Sun ditempel di dinding, beberapa figura foto terpajang di meja belajar mini, berdampingan dengan buku-buku bacaan yang berjajar rapi. Tetapi begitu masuk ke dalam kamar mandi en suite barulah akan terlihat perbedaan yang menyolok. Kaca-kaca berserakan, tetes-tetes darah menggenang di beberapa sudut.

Isak tangis dari seorang gadis yang terduduk di lantai di sudut kamar itu terdengar begitu memilukan di telinga Tezar. Andai saja Tezar dapat mengangkat semua kesedihan gadis itu, ia rela memindahkan semua luka itu ke dirinya.

“Argh… sial! Kenapa yang kutakutkan justru terjadi,” gerutu Tezar dalam hati.

Tezar merengkuh Elisa, gadis itu, dengan lembut. Perlahan disandarkannya kepala gadis itu ke bahu bidangnya.

“Shhshh… tenang, gue di sini,” Tezar menenangkan Elisa.

“Tezar, tolongin gue. Please bawa gue pergi. Gue takut,” ucap Elisa ditengah isakannya.
###

-Beberapa tahun yang lalu-

“Aduh!” teriak Elisa saat Tezar memegang lengannya.

Suasana pasar burung hari itu memang sangat ramai, jadi agar mereka tak terpisah saat mencari burung pipit untuk tugas Biologi, Tezar menggandeng tangan Elisa.

“Sorry, El. Sakit? Tangan lo kenapa?” tanya Tezar keheranan. Perasaan ia tidak memegang tangan Elisa dengan kencang.

Elisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Enggak apa-apa,” katanya.

Entah dorongan dari mana, Tezar yang penasaran justru menyingkap lengan kemeja panjang Elisa.

“Astaga, El! Lengan lo kenapa?” Tezar terperangah melihat bekas-bekas luka di lengan Elisa. Kini ia mulai mengerti mengapa Elisa selalu mengenakan baju berlengan panjang.

“Lepasin, Tezar!” Elisa menghentakkan tangan Tezar. Kemudian berlari meninggalkan Tezar.

“El, tunggu!” teriak Tezar mengejar Elisa. “Siapa yang ngelakuin ini, El? Bilang, gue bakal buat perhitungan!”

“Enggak perlu, Zar. Gue sendiri yang ngelakuin ini,” jawab Elisa. Ia menunduk, tampak menyesali ucapannya.

Tezar kehilangan kata-kata. “Kenapa, El?” Akhirnya ia berhasil bicara.

“Gue enggak tahu bagaimana mulanya, tapi gue ngerasa lebih tenang setelah mengiris lengan gue. Orang tua gue hampir setiap hari bertengkar. Papa hampir enggak pernah perhatian sama keluarga. Bahkan sepertinya  Papa sangat benci sama gue. Apa pun yang gue lakuin untuk nyenengin hatinya enggak pernah dihiraukan. Karena sikap cueknya Papa sama keluarga, Mama akhirnya selalu menuduh Papa berselingkuh. Mama akan mulai berteriak dan menangis, menyuarakan tuduhan dan kekesalannya pada Papa. Dan Papa akan selalu menyangkalnya, melampiaskan emosinya dengan melemparkan barang-barang di dekatnya. Gue enggak tahan dengan keadaan itu yang berlangsung terus-menerus bagaikan rekaman video yang diputar berulang-ulang. Mereka bahkan bertahan bersama demi gue, tapi mereka sama sekali tak berpikir bahwa keadaan ini menyiksa gue. Setiap kali mereka mulai bertengkar, perasaan gue akan mulai memburuk. Entah datang dari mana pikiran untuk mengiris lengan itu, tapi begitu darah menetes dari kulit gue rasa sakit yang ada di dalam hati gue perlahan terasa berkurang,” jelas Elisa.

“Oh, El. Gue benar-benar enggak nyangka.”

Sejak hari itu Tezar mulai mencari tahu tentang kondisi yang dialami Elisa dari internet. Kondisi itu disebut self harm atau self injury, merupakan suatu mekanisme mempertahankan diri dari rasa sakit emosional yang dirasakan. Dari berbagai artikel yang dibacanya, Tezar mulai memahami tindakan Elisa. Tezar yakin Elisa pasti berharap rasa sakit di tangannya mampu memindahkan fokusnya. Meredakan sakit hatinya. Menyingkirkan kepenatan yang menghimpit benaknya. Aliran darah yang dilihatnya menenangkannya. Meski Tezar tak akan mengerti mengapa orang harus menyakiti diri untuk menyembuhkan luka di hati.

Dari situ Tezar berjanji pada dirinya untuk menjaga Elisa, menjauhkannya dari tindakan berbahaya itu.

Tezar memberikan perhatiannya pada Elisa, menemaninya, mendengarkan segala cerita dan keluhannya. Ibarat tempat sampah, Tezar menjadi tempat Elisa membuang segala bebannya.

Chapter selanjutnya ditulis oleh Ara, dan bisa dilihat di sini:

http://diniriyani.blogspot.co.id/2016/10/story-blog-tour-challenge-with-owop-one.html?m=1

Iklan

5 tanggapan untuk ““Story Blog Tour” Challenge with OWOP (One Week One Paper) II

  1. Lah, ternyata si Elisa pecinta drakor juga, #salahfokus
    wakakakak
    Kayanya itu gambaran dari kamarnya Kak Astie juga ya xDD

    Kalau menurutku ceritanya masih berkesinambungan sama cerita Nipe Kak, guttt! (y)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s